HEADLINENTBTERKINI

Tak Ada Political Will, Isu Pengangguran Warga Lingkar Tambang Tak Masuk Musrenbang

Sumbawa Barat, NARASIMEDIA.NET – Isu pengangguran dan keterbatasan akses kerja bagi masyarakat lingkar tambang di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dinilai belum menjadi perhatian utama dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Sejumlah warga menilai belum terlihat dorongan kebijakan yang kuat untuk mengakomodasi kebutuhan tenaga kerja lokal di wilayah dengan aktivitas industri pertambangan.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, dalam forum Musrenbang yang juga dihadiri pihak perusahaan tambang, pembahasan lebih banyak berfokus pada program yang telah dijalankan perusahaan, bukan pada akses kerja masyarakat lokal.

Baca Juga : Universitas Mataram yang Kian Senyap Ditengah Polemik Publik

“Yang disampaikan lebih ke kegiatan perusahaan yang sudah berjalan. Soal akses kerja untuk masyarakat sekitar tidak dibahas secara khusus,” ujarnya.

Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Warga berharap ada ruang yang lebih terbuka untuk membahas keterlibatan tenaga kerja lokal, termasuk dalam sektor-sektor penunjang di luar pekerjaan teknis pertambangan.

Selain itu, warga juga menyoroti belum terealisasinya sejumlah program yang sebelumnya telah dibicarakan bersama pihak terkait. Salah satunya rencana pengangkatan sedimentasi yang disebut telah melalui proses pengajuan rekomendasi ke tingkat provinsi.

“Secara administrasi sudah diurus, tapi sampai sekarang belum berjalan. Ini sudah hampir dua tahun,” katanya.

Baca juga : Kontras, Pulau Sumbawa Alirkan Triliunan Untuk NTB, Namun Angka Pekerja Migran Terus Meningkat

Keluhan lain menyangkut berkurangnya ruang bagi pelaku usaha setempat dalam rantai pasok kebutuhan perusahaan/ peluang subkon. Warga menilai, sebagian kebutuhan logistik kini lebih banyak dipenuhi oleh pihak luar.

“Pelaku usaha lokal semakin sulit masuk. Kebutuhan banyak dipenuhi dari luar,” ujarnya.

Warga juga menyebut dukungan terhadap kegiatan di tingkat desa dinilai berkurang dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut memperkuat kesan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas tambang belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren peningkatan jumlah pekerja migran dari wilayah Sumbawa Besar-Barat dalam beberapa tahun terakhir. Dari 28 orang pada 2021, meningkat menjadi 247 orang pada 2022, lalu 293 orang pada 2024. Pada 2026, jumlah tersebut masih menunjukkan tren naik, dengan konsentrasi terbesar berasal dari Kecamatan Taliwang sebanyak 116 orang, disusul Brang Rea dan Poto Tano.

Baca Juga : Petani Desa Pandai Protes, Truk Mengantre Berhari-hari, Dua Truk Diduga Milik Kades Selalu Lolos Antrian

Aktivis pemerhati masyarakat lingkar tambang, Yuni Bourhany menilai peningkatan angka migrasi ini menjadi indikator terbatasnya peluang kerja di daerah, termasuk di kawasan dengan aktivitas industri besar. Karena itu, isu ketenagakerjaan lokal dinilai perlu mendapat perhatian lebih dalam forum perencanaan pembangunan daerah.

“Peningkatan angka migrasi ini menunjukkan peluang kerja di daerah masih terbatas, bahkan di kawasan industri besar. Karena itu, isu ketenagakerjaan lokal seharusnya menjadi perhatian serius dalam forum perencanaan pembangunan,” ujar Yuni Bourhany. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *