EKONOMI DAN BISNISNTBTERKINI

Bimtek Pakan Fermentasi Dorong Peternak Lombok Barat Tingkatkan Produktivitas, Bobot Sapi Bisa Naik 800 Gram Sehari !

Lombok Barat, NARASIMEDIA.NET  – Upaya meningkatkan kualitas pakan ternak ruminansia terus didorong pemerintah. Melalui Balai Pengembangan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia (BP3TR) Desa Lelede, Kecamatan Kediri, pelatihan teknis (bimtek) pengolahan pakan kembali digelar pada tanggal 1 hingga 2 oktober 2025 dengan melibatkan kelompok peternak setempat.

Kepala Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) NTB, Muhammad Nur, yang hadir memberikan materi menekankan pentingnya manajemen hijauan pakan. Ia mencontohkan praktik budidaya rumput pakchong dengan jarak tanam yang tepat serta interval pemotongan yang teratur. “Tujuannya agar produksi rumput tidak hanya lebih banyak, tapi juga kaya nutrisi,” ujar Nur.

Baca Juga : NTB dilanda Krisis Ganda : Peringkat Teratas Kredit Macet, dan Pertumbuhan Ekonomi Merosot Di Urutan 37 dari 38

Dalam kegiatan itu, peserta juga diajarkan teknik membuat silase pakan hijauan yang difermentasi selama sekitar satu bulan. Menurut Nur, metode ini sangat bermanfaat untuk menjaga ketersediaan pakan saat musim kemarau sekaligus meningkatkan daya cerna ternak. “Dengan fermentasi, sapi atau kambing bisa mendapatkan nutrisi yang lebih optimal. Berat badan sapi Bali, misalnya, bisa naik rata-rata 0,6 hingga 0,8 kilogram per hari,” jelasnya.

Nur menambahkan, hasil evaluasi menunjukkan pemberian pakan hijauan saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan ternak secara maksimal. Kombinasi dengan bahan tambahan lokal seperti dedak, jagung, hingga ampas tahu terbukti mempercepat peningkatan bobot ternak. Meski demikian, ia menegaskan pakan fermentasi tetap menjaga keaslian organik daging sapi NTB karena seluruh bahan berasal dari sumber alami tanpa tambahan kimia.

Baca Juga : Dana BTT Rp 484 miliar Tersedot Tanmpa Rincian, DPRD Desak Pemprov NTB Transparan

“Selama ini peternakan masih dianggap pekerjaan sampingan. Padahal, jika dikelola serius dengan teknologi modern, hasilnya bisa jauh lebih besar,” kata Nur.

Program pelatihan ini berlangsung selama dua hari dan menjadi bagian dari agenda BP3TR sebelum berintegrasi dengan BIB sesuai perubahan struktur organisasi perangkat daerah. “Pemerintah berharap edukasi semacam ini mampu mengubah pola pikir peternak, dari sekadar bertahan hidup menjadi usaha produktif yang berdaya saing tinggi”. Pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *