EKONOMI DAN BISNISHAPPENINGTERKINI

Taylor Swift efect || Bisnis triliunan hingga Singapura dituding monopoli kosernya

Narasimedia.net || Taylor Swift merupakan artis pop yang memiliki basis fans yang sangat besar di dunia, saking lakunya konser dia, beberapa segmen termasuk tour  yang dinamainya ‘The Eras Tour’ mendapat nobatan “The most provitable tour ever”, dan membawa manfaat ekonomi yang signifikan di tiap negara yang konsernya sambangi.

Manfaat ekonomi yang fantastis membuat the Eras Tour kerap menjadi rebutan, sampai-sampai pada konser yang digelar di Singapura kemarin mendapat kecaman dari sejumlah negara tetangga, seperti Thailand dan Filipina yang menuding Singapura memonopoli konser Taylor Swift karena digelar selama sepekan, dimana dilangsungkan dari tanggal 2 sampai dengan 9 Maret 2024 kemarin.

The New Open of Al-Wildan Islamic School in Mataram. hit the banner to know more of it.

Mengulas sedikit mengapa taylor begitu digandrungi, Taylor Swift mengawali karir sebagai penyanyi country pada tahun 2004. Namun, pada tahun 2012, ia memutuskan untuk berpindah ke genre pop, yang membantu dalam meningkatkan popularitasnya secara signifikan. Transisi ini juga memungkinkan Swift untuk mencapai lebih banyak penggemar yang terakumulasi hingga lintas generasi.

Swift juga dikenal sebagai seorang penulis lagu yang sangat produktif dan kreatif. Ia telah menciptakan banyak lagu yang menjadi hits dan telah memenangkan berbagai penghargaan, termasuk tiga kali Album of the Year dari Grammy Awards untuk album “Fearless”, “1989”, dan “Folklore”, masing-masing dalam genre yang berbeda.

selain itu, karakter swift yang ramah membuat fans bertahan pada personalnya dan karyanya, yang membuat komunitas penggemar swift terbangun sangat pesat.

karena hal tersebut, sejumlah negara rela mengeluarkan budget besar untuk menghadirkan segmennya, The Eras Tour. Berikut beberapa alasan rinci mengapa konser Taylor Swift diperebutkan :

Fandom yang Luas dan Lintas Generasi

Fandom Taylor Swift telah tumbuh bersamanya selama dua dekade terakhir, mencakup lintas generasi. Hal ini memungkinkan Swift untuk mempertahankan popularitasnya hingga saat ini, hal tersebut menjadi alasan mengapa penggemar Mba Swift bisa tetap setia dan terlibat dalam pertunjukan karya-karyanya.

Tour Swift di Singapura contohnya, setelah pengumuman konser di Publis pihak pemerintah singapura, Singapore Tourism Board (STB) melaporkan, sejumlah hotel dan maskapai penerbangan mengatakan bahwa ada kenaikan permintaan sekitar 30% untuk tiket pesawat dan akomodasi sekitar tanggal konser Swift. 

Tak hanya statistik kunjungan, totalitas fans kerap mebawa hasrat beli yang cukup besar, di Singapura, beberapa fans ada yang total banget pakai baju bertema Bejeweled berkilau sampai glitter di wajah, ada yang rela ditato dengan gaya Reputation, tato angka 13, ada yang pakai puluhan Friendship Bracelets, ada juga yang kasual aja pakai t-shirt The Eras Tour.

sampai-sampai, Perputaran uang dari konser Taylor Swift di singapura kemarin digadang-gadang mencapai US$1 miliar atau Rp16,1 triliun.

Prospek yang cukup baik pada GDP

Okupansi yang cukup besar di berbagai sektor membuat GDP negara yang disambangi The Eras Tour naik dengan pesat, tak hanya peruntungan dari penjualan tiket, The eras tour melibatkan banyak industri, beberapa fasilitas akomodasi seperti perhotelan, Rumah Makan, sektor pariwisata juga ikut terjual selama pre maupun post konser.

saat konser selama 6 malam di Singapura, maghnet The Eras Tour berhasil menjual habis tiket sebanyak 300 ribu penonton.

Manajer Umum Trip.com Edmund Ong mengungkap tur tersebut membuat layanan jalur udara menuju Singapura melonjak sebesar 186 persen dengan pemesanan akomodasi melesat hampir 5 kali lipat. Para fans yang rela habiskan isi tabungan mereka untuk bisa bertemu dengan sang bintang.

Mengutip dari CBS News,Tur The Eras Tour ditetapkan menjadi tur dengan pendapatan kotor tertinggi sepanjang masa, sehingga meningkatkan pendapatan perjalanan dan pariwisata lokal. Federal Reserve melaporkan, tur ini berkontribusi sebesar US$5 miliar (sekitar Rp77,7) triliun) bagi perekonomian dunia.

// Pewarta : Febrian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *