Dari Tunisia hingga Pasar Global, Pemprov NTB Dorong Ekonomi Naik Kelas
MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka sejumlah jalur pengembangan ekonomi, mulai dari penjajakan investasi internasional hingga mendorong komoditas daerah masuk ke pasar global.
Dalam sepekan terakhir, dua agenda tersebut terlihat dari penjajakan peluang investasi dengan Tunisia serta pelepasan ekspor komoditas kemiri dan vanili NTB ke pasar internasional.

Pada Rabu, 23 September 2026, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menerima kunjungan Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Mohamed Trabelsi di Mataram. Pertemuan tersebut membahas sejumlah peluang kerja sama, antara lain investasi, pariwisata, pendidikan dan riset kesehatan.
Salah satu pembahasan khusus adalah kesiapan NTB menerima investor asal Tunisia. Pemprov NTB menawarkan NTB Capital sebagai instrumen untuk mendampingi investor yang masuk dan mengembangkan usaha di daerah.
“Ini memang diniatkan untuk membantu para investor yang masuk,” kata Iqbal.
Selain investasi, Tunisia juga menawarkan peluang kerja sama pendidikan. Dalam pertemuan tersebut dibahas peluang pemberian 80 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia serta peningkatan kerja sama pertukaran mahasiswa.
Komoditas NTB Masuk Pasar Amerika dan Jepang
Pada sektor perdagangan, NTB juga mencatat ekspor komoditas pertanian dan perikanan ke pasar internasional.
Pada 24 September 2026, ekspor vanili organik NTB ke Amerika Serikat dan kemiri NTB ke Jepang dilepas bersamaan dengan peluncuran program penguatan komoditas desa.
Program tersebut merupakan bagian dari Joint Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Tahun 2026 bertajuk Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri NTB yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor.
Gubernur Iqbal menyebut pengembangan komoditas berorientasi ekspor menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi NTB. Komoditas yang disebut memiliki peluang pengembangan antara lain kemiri, vanili, kakao dan kopi.
“Pemilihan komoditas dari NTB untuk didorong masuk ke pasar global dan pasar ekspor sangat sejalan dengan strategi kami di NTB saat ini. Kami sedang dalam proses melakukan diversifikasi ekonomi,” ujar Iqbal.
Program kemiri tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Berdasarkan informasi yang disampaikan Pemprov NTB, pengembangannya mencakup kapasitas petani, produksi, modernisasi pascapanen, infrastruktur pendukung, pemanfaatan energi surya, pengembangan produk turunan hingga akses pasar global.
Kementerian Keuangan melalui delapan SMV menjalankan program tersebut dengan cakupan 40 desa dan 350 petani binaan, dengan luas lahan sekitar 7.836 hektare dan produksi sekitar 120 ton kemiri per tahun. Program itu diarahkan untuk meningkatkan produksi hingga 3.600 ton serta pendapatan petani.
Pasar Ekspor Kemiri Terus Diperluas
Pengembangan pasar kemiri juga dilakukan Pemprov NTB melalui konsolidasi petani.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Lalu Wiranata mengatakan pasar ekspor kemiri terbuka, dengan Jepang telah menjadi salah satu tujuan ekspor. Pemprov NTB juga menyatakan sedang mengejar peluang pasar Eropa dan Timur Tengah.
“Jepang sudah ekspor, Dubai belum kita penuhi,” kata Wiranata.
Pemprov NTB juga menyebut bibit kemiri telah dibagikan kepada petani. Menurut Wiranata, tanaman tersebut diproyeksikan dapat dipanen setelah tiga tahun, sementara komoditas yang dikirim dalam ekspor sebelumnya masih berasal dari pohon-pohon lama.
Dari Laut Lombok Timur ke Amerika
Jalur ekspor NTB juga datang dari sektor perikanan.
Dari Lombok Timur, produk olahan tuna kembali dikirim ke Amerika Serikat. PT High Point Fisheries (HPF) di Kahyangan, Labuhan Lombok, mulai memasuki pasar ekspor pada 2025.
Pada tahun pertama, perusahaan tersebut merealisasikan 29 kontainer dengan produksi sekitar 597 ton dan nilai produksi sekitar Rp54,6 miliar.
Hingga 21 September 2026, ekspor kembali terealisasi sebanyak 18 kontainer, dengan volume produksi lebih dari 355 ton dan nilai produksi melampaui Rp43,4 miliar. Produk yang dikirim berupa fillet tuna sirip kuning dalam sejumlah bentuk olahan.
Produk tersebut dipasarkan dengan memenuhi sejumlah standar dan sertifikasi, antara lain BRC, HACCP dan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), yang berkaitan dengan keamanan pangan, kualitas dan ketertelusuran produk.
Rangkaian agenda tersebut menempatkan pengembangan ekonomi NTB pada beberapa jalur sekaligus, yakni menarik investasi dari luar daerah, membuka kerja sama internasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan perikanan.
Di sisi investasi, Pemprov NTB menawarkan NTB Capital untuk mendampingi investor yang masuk. Sementara pada sektor komoditas, pengembangan diarahkan dari produksi, pengolahan hingga akses pasar internasional.

