NTBOPINITERKINI

Cuci Darah di Bima: Mendekatkan Layanan, Menjaga Harapan

Oleh: Muhammad Raihan Mubaraq, S.E., M.A., Dosen Universitas Negeri Makassar

Bima, NARASIMEDIA.NET

Peresmian layanan cuci darah (hemodialisa) di RSUD Bima menjadi kabar baik bagi masyarakat Bima, khususnya pasien gagal ginjal yang selama ini harus menempuh perjalanan ke Mataram untuk mendapatkan layanan cuci darah. Kehadiran fasilitas ini tentu dapat mengurangi beban biaya, waktu, tenaga, sekaligus beban keluarga pasien.

Namun, peresmian bukanlah akhir. Justru dari sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.

Layanan hemodialisa berbeda dengan layanan kesehatan yang hanya dikunjungi sesekali. Pasien membutuhkan terapi secara rutin dan berkelanjutan. Karena itu, ukuran keberhasilan RSUD Bima tidak cukup hanya dengan tersedianya mesin dan ruangan, tetapi sejauh mana layanan tersebut mampu memberikan kepastian, keamanan, kenyamanan, dan mutu pelayanan kepada pasien.

Arahan Bupati Bima agar layanan hemodialisa mengutamakan mutu patut diapresiasi. Pesan tersebut harus diterjemahkan dalam praktik sehari-hari: tenaga kesehatan yang kompeten, jadwal pelayanan yang jelas, ketersediaan bahan medis, pemeliharaan mesin, keselamatan pasien, serta sistem pengaduan yang mudah diakses.

Jangan sampai masyarakat memang tidak perlu lagi ke Mataram, tetapi kemudian menghadapi persoalan baru di tempat sendiri mulai dari antrean panjang, ketidakpastian jadwal, keterbatasan kapasitas, hingga sulitnya memperoleh informasi.

Mendekatkan layanan secara geografis harus diikuti dengan mendekatkan kualitas pelayanan kepada kebutuhan pasien.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu memikirkan keberlanjutan. Hemodialisa membutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak kecil. Mesin harus dirawat, tenaga kesehatan perlu terus ditingkatkan kompetensinya, dan kapasitas layanan harus mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, publik perlu mengawal layanan ini secara konstruktif. Apresiasi diberikan atas hadirnya fasilitas baru, tetapi pengawasan tetap diperlukan agar investasi kesehatan benar-benar menghasilkan manfaat jangka panjang.

Yang tidak kalah penting, hadirnya layanan hemodialisa jangan membuat kita hanya sibuk membicarakan bagaimana menyediakan tempat untuk cuci darah. Pemerintah juga perlu memperkuat pencegahan dan deteksi dini penyakit ginjal melalui edukasi di masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Sebab, keberhasilan pembangunan kesehatan bukan hanya ketika rumah sakit mampu mengobati semakin banyak pasien, tetapi juga ketika semakin banyak masyarakat dapat terhindar dari penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Kini masyarakat Bima tidak lagi harus selalu memandang Mataram sebagai tujuan untuk mendapatkan layanan hemodialisa. Ini adalah langkah maju.

Tetapi pekerjaan berikutnya jauh lebih penting, menjaga agar layanan tersebut benar-benar berkualitas dan dipercaya masyarakat.

Peresmian hanya berlangsung satu hari. Namun, mutu pelayanan harus dibuktikan setiap hari melalui bagaimana seorang pasien dilayani, bagaimana keluarganya mendapatkan informasi, dan bagaimana keselamatannya dijaga.

Cuci darah kini lebih dekat. Semoga pelayanan yang berkualitas juga semakin dekat dengan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *