MGPA Soroti Beban Logistik Event Balap: Ongkos Pengiriman Jadi Tantangan Mandalika
LOMBOK TENGAH, NARASIMEDIA.NET – Tingginya biaya logistik menjadi salah satu tantangan utama penyelenggaraan event balap internasional di Sirkuit Internasional Mandalika. Kondisi tersebut bahkan disebut turut memengaruhi keputusan penyelenggaraan sejumlah event balap.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Ananda Mikola, mengungkapkan biaya pengiriman perlengkapan balap dari luar negeri ke Mandalika masih menjadi beban besar bagi promotor.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena peserta event internasional membawa perlengkapan dalam jumlah besar dari berbagai negara, sementara sebagian besar pengiriman dilakukan melalui jalur laut.
“Yang terpenting itu memang bagaimana caranya untuk menurunkan cost logistik. Karena itu memang kasihan promotornya,” ujar Ananda dalam keterangannya.
Ia mencontohkan penyelenggaraan GT World Challenge yang tidak masuk dalam kalender Mandalika pada 2027. Salah satu pertimbangannya adalah tingginya biaya pengiriman logistik yang harus ditanggung promotor.
Ananda menjelaskan, peserta GT World Challenge banyak berasal dari China. Peralatan balap dan kebutuhan pendukung event kemudian harus dikirim menggunakan kapal menuju Indonesia.
“Jadi memang pada saat kemarin, bagian daripada event GT World Challenge itu skip di tahun depan. Karena memang cost pengiriman itu tinggi sekali,” katanya.
Menurut Ananda, persoalan logistik bukan sekadar menyangkut teknis pengiriman, tetapi juga berkaitan langsung dengan keekonomian sebuah event. Semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan promotor, semakin besar pula tantangan untuk menjaga kelayakan penyelenggaraan event di Mandalika.
Karena itu, MGPA kini membuka opsi mencari event pengganti untuk kalender 2027. Namun, pengganti tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menambah jumlah event.
MGPA justru ingin meningkatkan kualitas event yang digelar di Mandalika, termasuk memperkuat event lokal sebagai bagian dari pembinaan pembalap Indonesia dan Nusa Tenggara Barat.
Ananda menilai keberadaan event internasional akan lebih bermakna apabila Indonesia juga memiliki pembalap yang mampu tampil dan bersaing di dalamnya.
“Kita harus punya lokal hero. Kita harus punya pembalap Indonesia yang bisa balap di sana,” ujarnya.
Menurut dia, Mandalika tidak cukup hanya menjadi lokasi penyelenggaraan event internasional. Ekosistem motorsport juga harus mampu melahirkan pembalap lokal yang dapat menjadi representasi Indonesia di level internasional.
“Untuk bisa bermanfaat sebagai pembinaan untuk pembalap-pembalap lokal. Lokal maksudnya Indonesia dan NTB,” katanya.
MGPA juga menyebut sejumlah event pendukung seperti Formula 4 dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut. Formula 4, kata Ananda, berada dalam rangkaian event yang digelar, bukan sebagai event terpisah.
Di sisi lain, MGPA menargetkan peningkatan jumlah dan kualitas event di Mandalika. Namun, peningkatan tersebut tetap harus dibarengi dengan strategi menghadirkan penonton dalam jumlah besar.
“Yang terpenting adalah bagaimana bisa menghadirkan penonton banyak ke Mandalika,” ujar Ananda.
Dengan demikian, tantangan Mandalika ke depan bukan hanya menjaga keberlangsungan kalender balap, tetapi juga menekan biaya logistik, meningkatkan kualitas event, memperkuat pembalap lokal, dan memastikan setiap event memiliki daya tarik bagi penonton.
Bagi MGPA, persoalan biaya logistik menjadi salah satu pekerjaan rumah penting agar Mandalika tetap kompetitif sebagai destinasi motorsport internasional sekaligus mampu membangun ekosistem balap nasional yang berkelanjutan.

