HAPPENINGTERKINI

Jelang HUT RI ke-81, Aceh Ricuh dan Papua Diwarnai Ancaman Penggagalan Upacara

MATARAM, NARASIMEDIA.NET – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjelang 17 Agustus 2026 diwarnai dinamika keamanan di sejumlah daerah. Di Aceh, peringatan Hari Damai Aceh ke-21 berujung kericuhan setelah massa mencoba menurunkan bendera Merah Putih. Sementara di Papua, kelompok bersenjata mengeluarkan seruan penolakan terhadap pelaksanaan upacara kemerdekaan.

Kericuhan di Banda Aceh terjadi saat peringatan 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8).

Awalnya, kegiatan berlangsung dengan zikir, doa tolak bala, dan orasi. Namun sekitar pukul 11.25 WIB, sebagian massa dari gabungan anak syuhada dan sejumlah elemen masyarakat mencoba menurunkan Merah Putih dari salah satu tiang di kompleks masjid untuk menggantinya dengan bendera bulan bintang.

Seorang warga memanjat tiang dan membuka tali pengikat Merah Putih sebelum melemparkannya ke bawah. Dua warga lainnya kemudian ikut memanjat dengan membawa bendera bulan bintang.

Aparat TNI yang berjaga melarang aksi tersebut. Tembakan peringatan kemudian dilepaskan ke udara. Situasi justru memanas setelah massa mengejar personel TNI hingga ke kawasan Gedung DPRK Banda Aceh dan Simpang Kodim.

Batu, botol air mineral, serta benda keras dilemparkan ke arah aparat. Sejumlah kendaraan, termasuk mobil personel Brigade Mobil, dilaporkan mengalami kerusakan. Aparat gabungan TNI-Polri kemudian menggunakan tembakan peringatan tambahan, semprotan air, dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Satu sepeda motor dinas TNI yang berada di area masjid juga dibakar. Sejumlah warga terluka, termasuk seorang korban yang mengalami luka di kepala dan dilarikan ke rumah sakit.

Sementara itu, menjelang HUT ke-81 RI, kelompok TPNPB-OPM melalui juru bicara Sebby Sambom dan sejumlah komandan lokal disebut menyerukan larangan bagi masyarakat asli Papua dan pejabat daerah untuk mengikuti upacara Merah Putih.

Seruan tersebut secara khusus menyasar Wamena dan sekitarnya. Kelompok itu juga mengimbau pengibaran Bintang Kejora serta pelaksanaan upacara pada 1 Desember. Sejumlah wilayah disebut sebagai zona konflik, antara lain Yahukimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Puncak Jaya, Intan Jaya, Maybrat, Dogiyai, Paniai, dan Deiyai.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menyatakan TNI-Polri tidak terpengaruh oleh ancaman tersebut. Pengamanan diperketat di Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Polda Papua juga menyiagakan sekitar 7.000 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah untuk mengamankan rangkaian peringatan HUT RI di Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Namun, situasi berbeda terlihat di Sentani, Kabupaten Jayapura. Kirab dan pembentangan Merah Putih raksasa berukuran 120 x 80 meter digelar dengan melibatkan sekitar 1.200 peserta dari unsur TNI-Polri, Basarnas, pelajar, dan masyarakat.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang kontras menjelang peringatan 17 Agustus. Di satu sisi, pengamanan diperketat menyusul ancaman dan kericuhan. Di sisi lain, sejumlah daerah tetap menggelar kegiatan kemerdekaan dengan melibatkan masyarakat.

Pemerintah dan aparat keamanan mengimbau masyarakat menjaga kondusivitas agar rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI berlangsung aman dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *