Tokoh Muda NTB, Ari Garmono Tawarkan Wajah Baru Lombok Utara: Pariwisata, Adat, dan Ekonomi Jalan Bersama
Lombok Utara, NARASIMEDIA.NET –Selama ini pembangunan di Kabupaten Lombok Utara dinilai berjalan parsial. Infrastruktur dibangun, pariwisata dikembangkan, dan ekonomi didorong, namun tidak selalu terhubung dengan karakter masyarakat, lingkungan, maupun identitas budaya daerah. Akibatnya, banyak potensi lokal belum memberi dampak maksimal, sementara wajah dan jati diri Lombok Utara perlahan terpinggirkan di tengah laju pembangunan.
Berangkat dari kondisi itu, Tokoh Muda NTB, Ari Garmono menawarkan konsep pembangunan berbasis budaya sebagai arah baru bagi Lombok Utara. Ia menggagas model pembangunan yang memadukan sektor fisik, ekonomi, lingkungan, pariwisata, adat, hingga inovasi pelayanan publik, dengan budaya ditempatkan bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama kebijakan dan pembangunan daerah.
Menurut dia, Lombok Utara memiliki kekuatan pada identitas, adat, dan karakter masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kebijakan.
“Lombok Utara tidak kekurangan potensi. Yang sering terjadi, pembangunan berjalan sendiri, sementara budaya dan karakter masyarakat ditinggalkan. Saya ingin keduanya disatukan, supaya pembangunan punya arah dan masyarakat merasa memiliki,” kata Ari Garmono.
Dalam sektor fisik, Ari mendorong penataan Pelabuhan Bangsal dengan standar pelayanan yang lebih baik, namun tetap menampilkan identitas budaya Lombok Utara. Ia juga mengusulkan pembangunan replika kapal dan patung Sunan Prapen di Carik sebagai penanda sejarah kawasan.
Selain itu, ia menawarkan gagasan pendirian sekolah tinggi adat yang tidak hanya mengajarkan kebudayaan, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia untuk birokrasi desa dan pelayanan publik. Menurut Ari, lulusan sekolah itu nantinya dapat diserap dalam kegiatan ekonomi maupun pemerintahan.
“Sekolah adat jangan hanya bicara tradisi. Di dalamnya harus ada pendidikan tentang pelayanan, tata ruang, etika, sampai kemampuan mengelola desa. Jadi budaya tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi kekuatan pembangunan,” ujarnya.
Di bidang ekonomi, Ari menekankan pentingnya kemandirian pangan dan penguatan produk lokal. Ia mengusulkan pembentukan badan usaha daerah untuk memenuhi kebutuhan protein seperti ayam, telur, dan daging. Selain itu, ia juga menawarkan pengembangan produk khas, termasuk kopi tuak dan pengolahan hasil bumi secara terpadu.
Ari menilai selama ini banyak potensi ekonomi lokal yang belum dikelola secara serius. Menurut dia, hasil pertanian, peternakan, dan kekayaan alam Lombok Utara seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
“Kita terlalu lama bergantung pada sektor yang sama. Padahal Lombok Utara punya hasil bumi, punya peternakan, punya kekayaan budaya. Tinggal bagaimana semua itu diberi nilai tambah dan dikelola dengan cara yang profesional,” katanya.
Dalam konsep tersebut, Ari juga memasukkan gagasan dana bagi hasil pendakian Gunung Rinjani agar manfaat ekonomi pariwisata lebih dirasakan masyarakat di Lombok Utara. Ia menilai masyarakat sekitar kawasan wisata harus menjadi pihak pertama yang memperoleh dampak positif.
Pada sektor lingkungan, Ari mendorong penghijauan lahan kritis dengan teknologi distribusi air, penataan kawasan pesisir, serta penguatan hutan adat. Ia juga mengusulkan standarisasi arsitektur bangunan berbasis kelokalan agar wajah Lombok Utara tetap memiliki ciri khas.
Menurut Ari, pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan dan identitas daerah.
“Kalau semua dibangun tanpa karakter, kita akan kehilangan wajah Lombok Utara. Lingkungan harus dijaga, hutan adat harus diperkuat, dan bangunan baru harus tetap mencerminkan jati diri daerah,” ucapnya.
Di sektor pariwisata, Ari menawarkan konsep yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia mengusulkan Santong dipromosikan sebagai Kingdom of Waterfall dan jalur air terjun diintegrasikan menjadi satu paket wisata. Ia juga ingin ritual adat dan homestay berbasis warga dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Menurut dia, pariwisata Lombok Utara tidak cukup hanya menjual pemandangan. Wisata harus menghadirkan cerita, tradisi, dan keterlibatan masyarakat setempat.
“Wisatawan sekarang tidak hanya ingin melihat tempat yang indah. Mereka ingin merasakan kehidupan masyarakat, mengenal tradisi, dan membawa pulang pengalaman. Karena itu, ritual adat, kuliner, dan kehidupan kampung harus menjadi bagian dari paket wisata,” kata Ari.
Ari juga menyoroti pentingnya regulasi agar hotel dan pelaku usaha lebih banyak menggunakan produk lokal. Ia menilai langkah itu akan membuat perputaran ekonomi lebih besar dirasakan masyarakat.
Sementara dalam bidang adat dan budaya, Ari mengusulkan riset kebudayaan dijadikan dasar penyusunan awik-awik dan muatan lokal di sekolah. Ia juga mengusulkan adanya penganggaran khusus untuk kegiatan ritual adat serta penguatan kelembagaan dewan adat.
“Budaya tidak bisa hanya dipakai saat festival atau seremoni. Budaya harus masuk ke sekolah, menjadi dasar kebijakan, dan didukung dengan anggaran yang jelas,” ujarnya.
Selain sektor-sektor tersebut, Ari juga menawarkan sejumlah inovasi pelayanan publik. Di antaranya efisiensi anggaran berbasis teknologi informasi dan kecerdasan buatan, sistem penilaian kinerja aparatur, pusat data desa, hingga pusat konseling masyarakat.
Menurut Ari, pemerintah daerah ke depan harus lebih cepat, efisien, dan dekat dengan persoalan warga.
“Kalau data masyarakat lengkap dan pelayanan terhubung, pemerintah bisa lebih cepat merespons. Warga tidak perlu berputar-putar hanya untuk mendapatkan bantuan atau layanan,” katanya.
Ari Garmono merupakan mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah pada 2019. Kiprahnya di sektor pariwisata mendorongnya untuk membangun iklim pariwisata Lombok yang terus berkembang, namun tetap menjaga identitas daerah melalui integrasi budaya serta penguatan autentisitas lokal.

