Polemik Kematian Biota di Sekitar Smelter PT AMNT, Uji Lab DLHK Temukan Potasium di Sungai Sekitar Smelter
Sumbawa Barat, NARASIMEDIA.NET – Laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran sungai oleh limbah smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memasuki babak baru. Dugaan tersebut mencuat setelah ditemukannya sejumlah biota air ditemukan mati di sungai sekitar kawasan smelter, hal ini memicu kecurigaan warga terhadap kemungkinan pencemaran limbah kimia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, S.Pd., M.Pd., mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menindaklanjuti laporan masyarakat sejak 2 Oktober 2025. Ia menyebutkan bahwa Dinas LHK telah melakukan koordinasi dengan pihak eksternal PT AMNT.
“Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak PT AMNT, termasuk laporan dari tim lingkungan perusahaan, tidak ditemukan adanya aktivitas pembuangan air limbah ke Sungai Maluk yang dapat menyebabkan pencemaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di sekitar lokasi sungai ditemukan adanya akses keluar-masuk masyarakat untuk aktivitas memancing. Dinas LH mengatakan indikasi awal bahwa kematian biota sungai diduga berkaitan dengan penggunaan potasium dalam aktivitas penangkapan ikan.
“Ditemukan terali pengaman di bawah gorong-gorong perbatasan dengan area smelter dalam kondisi terbuka. Lokasi tersebut diketahui menjadi akses masyarakat untuk memancing, menjaring ikan, serta diduga digunakan untuk aktivitas penangkapan ikan dengan potasium,” katanya.
Selain itu, Dinas LH juga telah menurunkan tim untuk melakukan peninjauan lapangan dan pengambilan sampel air sungai. “Tim Bidang Pengkajian dan Pemantauan Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan peninjauan langsung pada Kamis, 2 Oktober 2025, sekitar pukul 14.00 WITA, serta melakukan pengambilan sampel air,” tuturnya.
Dari hasil uji sampel air menggunakan alat laboratorium portabel milik Dinas LH, ditemukan adanya kandungan potasium. “Hasil pengujian menunjukkan parameter potasium sebesar 3,2 mg/L,” jelasnya.
Berdasarkan hasil tersebut, Dinas LH menyimpulkan bahwa kematian ikan di Sungai Maluk terjadi akibat kadar potasium yang melebihi baku mutu, yang diduga berasal dari aktivitas masyarakat dalam menangkap ikan menggunakan bahan kimia.
Terkait kerusakan terali pengaman sungai, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan PT AMNT untuk segera melakukan perbaikan. “Dinas LH Kabupaten Sumbawa Barat telah meminta PT AMNT untuk segera memperbaiki terali pengaman di bawah gorong-gorong guna mencegah akses keluar-masuk masyarakat di aliran Sungai Maluk sekitar smelter,” pungkasnya.

