Satu Tahun Iqbal–Dinda, Peternakan NTB Surplus dan Mulai Hilirisasi
Mataram, NARASIMEDIA.NET –
Satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Iqbal–Dinda, sektor peternakan di Nusa Tenggara Barat mencatatkan tren pertumbuhan positif. Produksi meningkat, surplus daging dan telur terjaga, penyakit hewan strategis terkendali, hingga dimulainya program hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Sumbawa.
Sub sektor peternakan selama ini menjadi penopang utama penyediaan protein hewani, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus instrumen pengurangan kemiskinan. Secara nasional, NTB menempati posisi strategis dengan populasi sapi potong peringkat keempat setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Kerbau berada di peringkat keempat, kuda peringkat ketiga, kambing ketujuh, ayam kampung ke-12, serta itik ke-13 dari 38 provinsi.
Dukungan ekologis NTB ditopang ketersediaan lahan sumber pakan ruminansia seluas 1,69 juta hektare, mayoritas berada di Pulau Sumbawa. Daya tampung ternak herbivora mencapai 1,58 juta satuan ternak atau setara 2,21 juta ekor, dengan potensi pengembangan tambahan lebih dari 587 ribu ekor.
Baca Juga : NTB Perkuat Ekosistem Pariwisata dan Ekraf Lewat Pembiayaan Syariah
Sepanjang 2025, produksi daging ruminansia mencapai 15.366,1 ton, melampaui kebutuhan konsumsi 13.687,8 ton, sehingga surplus 1.678,32 ton atau naik 5,7 persen dibanding 2024. Produksi daging unggas sebesar 57.998,4 ton, juga melebihi kebutuhan 55.553 ton dengan surplus 1.860,27 ton atau naik 3,3 persen dari tahun sebelumnya.
Produksi telur turut meningkat menjadi 57.506,44 ton atau naik 1,86 persen dari 2024. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan populasi ayam buras yang mencapai 5,3 juta ekor, itik 444 ribu ekor, serta lonjakan populasi puyuh sebesar 14 persen.
Memasuki 2026, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama Pemprov NTB meluncurkan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kabupaten Sumbawa. Program ini mengintegrasikan rantai produksi mulai dari pembibitan ayam pedaging dan petelur, industri pakan, budidaya, rumah potong unggas, hingga pengolahan produk seperti karkas, sosis, nugget, dan tepung telur. Setiap klaster diproyeksikan menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja.
Di sisi kesehatan hewan, NTB mencatat 100 persen wilayah terkendali Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di seluruh 10 kabupaten/kota pada 2025. Sebanyak 914 kasus, meliputi Anthrax, Septichaemia Epizootica, Surra, Rabies, Avian Influenza, dan PMK, dilaporkan tertangani. Penguatan laboratorium dengan alat PCR memungkinkan pemeriksaan PMK dilakukan langsung di NTB tanpa pengiriman sampel ke luar daerah.
Baca Juga : TP-PKK Lombok Utara dan KKN IAIH Pancor Sosialisasi Cegah Pernikahan Dini Di Ponpes Darul Iman NWDI Bentek
Penguatan tata niaga juga tercermin dari capaian indikator pemasaran sebesar 77,85 persen, melampaui target 75 persen. Dukungan transportasi Tol Laut dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mendorong 17 voyage kapal ternak sepanjang 2025 dari Bima ke sejumlah pelabuhan tujuan. Pemanfaatan angkutan khusus ternak melonjak 455,95 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sebagai lumbung sapi nasional, populasi sapi NTB pada 2025 mencapai 1.340.130 ekor atau naik 2,44 persen dari 2024. Peningkatan ini didorong keberhasilan inseminasi buatan, transfer embrio, vaksinasi PMK, serta capaian nol kasus pemotongan betina produktif.
Baca Juga : Iqbal Mutasi 392 Pejabat Pemprov NTB
Pemerintah Provinsi NTB menyatakan transformasi ini menandai pergeseran arah pembangunan peternakan dari produksi primer menuju industri berbasis nilai tambah, dengan orientasi pada ketahanan pangan dan penciptaan lapangan kerja. (*)

