Penumpang Ungkap Dugaan Kesengajaan di Balik Antrean Panjang Pelabuhan Poto Tano
Sumbawa Barat, NARASIMEDIA.NET — Penumpukan kendaraan di jalur penyeberangan Sumbawa–Lombok kembali menuai keluhan. Seorang penumpang menilai antrean panjang di Pelabuhan Poto Tano bukan semata akibat padatnya arus transportasi, melainkan ada dugaan pola yang sengaja diciptakan.
Seorang penumpang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, keterlambatan keberangkatan kapal belakangan ini terkesan bukan karena faktor teknis. Ia menduga, kondisi tersebut selain untuk memastikan kapal berangkat dalam keadaan penuh, juga berpotensi dimanfaatkan untuk memainkan harga jasa transportasi.
“Biasanya bus malam dari Kota Bima yang tiba di Pelabuhan Poto Tano sekitar pukul tiga dini hari langsung bisa menyeberang dalam beberapa menit. Tapi sekarang, mereka harus menunggu sampai pukul tujuh pagi baru bisa berangkat,” ungkapnya, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga : LBH Komnas HAM Desak DPRD NTB Panggil BKD Soal Pengangkatan Kadis DPMPTSP Eks Napi
Ia menjelaskan, perubahan jadwal itu berdampak langsung pada waktu tempuh perjalanan menuju Lombok. Bus yang sebelumnya tiba di Terminal Mandalika, Bertais, Mataram sekitar pukul delapan atau sembilan pagi, kini baru sampai menjelang siang, sekitar pukul sebelas.
Penumpukan kendaraan yang berlangsung berjam-jam ini membuat banyak penumpang resah.
“Kami hanya berharap jangan ada permainan seperti ini. Setiap penumpang punya urgenitas masing-masing. Ada yang harus bekerja, ada yang membawa barang penting. Kalau situasi ini terus terjadi tanpa kejelasan, masyarakat pasti dirugikan,” ujarnya.
Sumber tersebut menambahkan, sejumlah sopir bus dan pengemudi kendaraan pribadi yang sering melintas di jalur penyeberangan Poto Tano juga mulai mempertanyakan pola antrean yang tidak wajar. Mereka berharap instansi terkait segera turun melakukan pengecekan dan memastikan jadwal kapal kembali normal.
Baca Juga : Satpol PP Kota Mataram Berhasil Tarik Rp352 Juta Tunggakan Pajak ke Kas Daerah
“Kami tidak menuduh siapa pun, tapi perlu ada kejelasan dan pengawasan. Karena kalau dibiarkan, pola yang sama akan terus berulang dan merugikan,” tandasnya.

