Apakah Harga Emas Naik Di Tengah Inflasi Worth It ? || tembus 1.320.000 per gramasinya
Narasimedia.net || Emas mencapai nilai jual tertinggi sepanjang sejarah, harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk pada perdagangan Rabu (24/4/2024) ditutup di angka Rp 1.320.000 per gram. padahal, pada kilas lima tahun lalu, di 2019, harga emas hanya di Rp 675.833 per gramasinya.
Naiknya harga emas membuat sejumlah konten financial advisor di berbagai platform sosial media ramai memberitakan positif dan mendorong readers maupun viewersnya untuk segera berinverstasi emas. lalu, apakah naiknya harga emas di tengah inflasi worth it ?
Sebelunya, Bank Indonesia mencatatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah hingga Rp16.200 per dolarnya.
Baca Juga : Artikel Terkait
Meninjau situasi moneter kebelakang, terdapat ragam deret faktor yang mempengaruhi situasi pasar yang mengakibatkan inflasi. Bagaimana dengan emas ?, apakah inflasi yang memarah membuat naiknya harga emas dimaknai positif ?
Pada dasarnya, emas dianggap sebagai aset yang stabil dan tidak terpengaruh oleh inflasi. Dalam kondisi inflasi, harga emas cenderung naik karena investor mencari aset yang nilainya tidak terpengaruh oleh inflasi (emas), situasi tersebut bisa kita sinkronkan dengan hukum penawaran dan permintaan.
Lalu, apakah naiknya harga emas positif atau hanya ilusi statistik saja ?
Kenaikan harga emas akibat inflasi dapat memiliki efek yang kompleks dan tergantung pada sudut pandang individu serta situasi ekonomi yang spesifik. Berikut beberapa sudut pandang yang dapat dipertimbangkan :
Positif bagi Pemegang Emas: Bagi individu atau investor yang sudah memiliki emas, kenaikan harga emas akibat inflasi dapat dianggap positif. Ini karena nilai emas yang dimiliki akan meningkat, membantu melindungi kekayaan mereka dari penurunan daya beli mata uang akibat inflasi. Emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi karena cenderung mempertahankan nilai intrinsiknya seiring waktu.

Negatif bagi Konsumen: Bagi konsumen atau individu yang tidak memiliki emas atau memiliki eksposur terbatas terhadap emas, kenaikan harga emas dapat dianggap negatif. Ini karena mereka mungkin perlu membayar lebih banyak untuk membeli emas atau produk-produk yang terkait dengan emas, seperti perhiasan. Selain itu, kenaikan harga emas juga dapat mencerminkan tingkat inflasi yang tinggi secara umum, yang dapat menurunkan daya beli mereka terhadap barang dan jasa lainnya.
Dampak terhadap Ekonomi: Kenaikan harga emas akibat inflasi juga dapat memiliki dampak lebih luas pada ekonomi. Di satu sisi, itu dapat merangsang aktivitas pertambangan emas dan meningkatkan pendapatan bagi produsen emas dan ekonomi yang terkait dengan industri ini. Namun, di sisi lain, kenaikan harga emas dapat mempengaruhi biaya produksi bagi perusahaan-perusahaan yang menggunakan emas sebagai bahan baku, seperti industri perhiasan atau elektronik.
Dengan demikian, apakah kenaikan harga emas akibat inflasi dianggap positif atau negatif akan bergantung pada perspektif individu dan konteks ekonomi yang terlibat. Bagi beberapa pihak, itu dapat dianggap sebagai pelindung nilai yang efektif terhadap inflasi, sementara bagi yang lain, itu dapat menimbulkan tantangan ekonomi tambahan.
// pewarta : Febrian

