Hasil Otopsi Ungkap Juliana Marins Bertahan Hidup 32 Jam Usai Jatuh Pertama di Rinjani
Lombok, NARASIMEDIA.NET – Kasus kematian tragis pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani kembali menjadi sorotan setelah hasil otopsi terbaru dari Brasil mengungkap temuan mengejutkan. Berdasarkan laporan tim forensik dari Instituto Médico Legal (IML) Rio de Janeiro, Juliana diduga masih bertahan hidup hingga 32 jam setelah terjatuh pertama kali dari tebing batu di kawasan Rinjani.
Laporan tersebut diberitakan sejumlah media arus utama Brasil seperti CNN Brasil, Agência Brasil, dan GZH. Disebutkan, korban jatuh pertama kali dari ketinggian sekitar 220 meter, sebelum kembali tergelincir sejauh 60 meter. Rangkaian insiden itu menyebabkan luka serius, termasuk patah tulang pinggul, tulang rusuk, serta pendarahan hebat pada organ dalam.
Tim forensik di Brasil menyimpulkan bahwa kematian Juliana kemungkinan terjadi 10 hingga 15 menit setelah jatuh kedua, akibat kerusakan organ vital dan gangguan pernapasan. Temuan ini tidak berbeda jauh dengan hasil otopsi di Indonesia yang sebelumnya menyebut kematian terjadi sekitar 20 menit setelah jatuh.
Namun yang menjadi sorotan, hasil otopsi di Brasil juga menyebut bahwa setelah jatuh pertama, Juliana masih dalam kondisi hidup hingga 32 jam, sebelum mengalami jatuh kedua yang mematikan. Fakta ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kecepatan dan efektivitas proses evakuasi di jalur pendakian ekstrem seperti Rinjani.
Sejumlah pihak di Brasil pun mulai menyoroti prosedur standar operasional (SOP) penyelamatan di kawasan wisata alam, dan menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem tanggap darurat di destinasi ekstrem, khususnya di kawasan pegunungan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. (*)

