BUDAYA DAN PARIWISATATERKINI

Mengenal Rimpu, Cerita Menarik dan Filosofi Dibaliknya

Narasimedia.net || Rimpu merupakan pakaian tradisional yang umum dikenakan perempuan suku Bima, yang merupakan salah satu suku etnis di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peneliti Budaya dan Sejarah Bima, Fahrurizki, mengatakan rimpu mulai dipakai oleh perempuan yang mendiami kampung Melayu (sekarang Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima) sejak abad ke-17 atau sekitar tahun 1640.

Rimpu merupakan sematan pakaian yang menggunakan dua lembar sarung, kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima-Dompu dikenal sebagai Tembe (sarung) Nggoli dan Songket. Budaya rimpu telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima menerima islam yang dibawa oleh orang-orang Sulawesi melalui hubungan antara kerajaan Bima dengan Goa.

Reklame Space

Sesuai latar belakang historisnya, Rimpu mengandung nilai-nilai filosofis keislaman yang syarat akan kehormatan adab dan kesopanan, yang kemudian menjadi bagian dari budaya Bima/ Mbojo yang hingga kini terlestaikan.

Fahrurizki mengatakan masuknya agama dan pengaruh Islam otomatis mengubah kebiasaan masyarakat Bima, salah satunya tata cara berbusana bagi perempuan. Sebab, dalam Islam, perempuan yang sudah dewasa atau akil balig diwajibkan untuk menutup auratnya.

Reklame Space

sama halnya dengan Jilbab/ Hijab, Rimpu dikenakan jikalau perempuan melakukan interaksi yang saat tersebut terdapat laki-laki yang bukan mahromnya. “Saat itu, perempuan Bima mengenakan rimpu belum merata dan tidak setiap hari. Hanya saat keluar rumah, seperti ke pasar dan ke rumah tetangga, hingga hari raya besar Islam,” katanya.

sisi unik lainnya dari Rimpu juga terletak di jenisnya, ada Rimpu cili, dikenakan oleh gadis atau perempuan Bima yang sudah akil balig dan yang belum menikah (perawan). Jenis rimpu cili ini ciri khasnya hanya mata yang terlihat, sedangkan aurat (wajah) tertutup.

Reklame Space

Kemudian rimpu colo dikenakan oleh perempuan dewasa yang sudah menikah (bersuami dan punya anak). Ciri khasnya hanya menutupi aurat kepala dan dagu, sedangkan keseluruhan wajah masih tetap terlihat.

Saat ini, rimpu masih banyak digunakan di desa-desa, juga dapat terlihat dalam acara kebudayaan suku Mbojo dan bahkan, di beberapa pasar tradisional di kota Bima dan Kabupaten Bima pun banyak perempuan Bima yang masih mengenakannya. (Febrian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *