Daya Beli Masyarakat Melemah Jelang Lebaran, Ini Tanggapan Kepala Dinas Perdagangan NTB
Mataram, NARASIMEDIA.NET – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025, daya beli masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini menjadi perhatian bagi berbagai kalangan, termasuk para pengusaha yang merasakan dampaknya terhadap omzet bisnis mereka. Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si, memberikan tanggapannya terkait fenomena ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025, NTB tercatat mengalami deflasi sebesar -0,01%. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kebijakan subsidi listrik yang berkontribusi terhadap penurunan harga barang. “Inflasi yang negatif ini, atau deflasi, dapat menunjukkan adanya penurunan permintaan dari masyarakat. Salah satu penyebabnya bisa jadi adalah belanja pemerintah yang belum maksimal, yang tentu berdampak pada daya beli masyarakat,” ujar Baiq Nelly.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pemerintah baik pusat maupun daerah telah berusaha untuk meningkatkan daya beli masyarakat dengan cara yang strategis. Salah satu langkah tersebut adalah dengan melakukan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pegawai negeri dan pekerja di sektor formal lainnya. “Kami berharap pembayaran THR ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya dalam rangka menyambut Lebaran,” jelasnya.
Namun, meskipun ada sejumlah kebijakan yang diambil untuk menstimulasi ekonomi, Baiq Nelly juga menyebutkan bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di NTB tidak memberikan insentif langsung bagi pelaku usaha. Sebagai gantinya, alokasi anggaran difokuskan pada subsidi bahan pokok (bapok) melalui kegiatan pasar murah yang diadakan di berbagai daerah. “Kami fokus pada upaya mendukung daya beli masyarakat terhadap bahan pokok, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran,” tambahnya.
Terkait dengan fenomena sepinya pusat perbelanjaan yang juga disorot oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Baiq Nelly menilai bahwa kondisi ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus beradaptasi dengan situasi yang ada, termasuk melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan teknologi digital.
“Saat ini, kami juga terus mendorong pelaku usaha untuk mengoptimalkan strategi mereka, termasuk melalui digitalisasi dan pemanfaatan e-commerce, agar tetap dapat bersaing dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin beralih ke belanja daring,” ujar Baiq Nelly.
(Redaksi | Febrian )

