HAPPENINGTERKINI

Ramai Sorotan Buruk, Berikut Sejarah Produsen Pesawat Terlaris Di Dunia, Boeing

Narasimedia.net || The Boeing Company, menjadi salah satu pabrikan pesawat yang merancang, memproduksi, dan menjual pesawat terbang dengan rate konsumen tertinggi di dunia di atas  competitor abadinya, Airbus yang ada di urutan kedua,  banyak perusahaan maskapai ternama mempercayakan Boeing sebagai pilihan pesawat dalam bisnis penerbangan komersial mereka, sebut saja seperti Fly Emirates, Qatar Airways, Singapore Airlines, Japan Airlines hingga perusahaan penerbangan nasional seperti Garuda Indonesia, citilInk, hingga maskapai berjuluk singa terbang, Lion Air.

Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Presiden dan CEO Dennis Muilenburg mengorganisir 5 divisi  produksi Boeing, mulai dari keperuntukannya untuk komersial ‘Boeing Commercial Airplanes (BCA)’; pertahanan ‘Boeing Defense, Space & Security (BDS)’; mekanik  ‘Engineering, Operations & Technology’;  layanan penyewaan dan peminjaman berbasis aset  ‘Boeing Capital’; dan Boeing Shared Services Group.

Dalam sejarahnya, Eksistensi Boeing sebagai produsen pesawat terbang  dimulai pada 15 Juli 1916, ketika William Edward Boeing mendirikan Pacific Aero Products Company di Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS) untuk memproduksi pesawat terbang. Pada mulanya, Boeing menggunakan bekas rumah perahu di Sungai Duwamish dekat Seattle untuk membangun pabrik pesawat terbang. Pertama-tama, perusahaan memproduksi Boeing Model 1, yaitu biplan bermesin tunggal yang dilengkapi pelampung.

Iklan

Pada 9 Mei 1917, dimana kala itu momen Perang Dunia I, perusahaan tersebut kemudian berganti nama menjadi  Boeing Airplane Company. Pada masa-masa awal, Boeing sering kali merakit dan memproduksi jenis-jenis pesawat untuk pertempuran dan pengeboman guna mendukung kekuatan militer AS dalam Perang Dunia I dan II.

Kemudian pada 1933, Boeing mulai memperkenalkan jenis pesawat Boeing series 247. Pesawat ini diklaim sebagai jenis pesawat paling modern pada eranya. Boeing 247 merupakan model pesawat penumpang dengan mesin ganda yang dapat terbang dengan satu mesin saja.

Sekitar lima tahun berselang, pada 1938, Boeing menandatangani kesepakatan dengan Pan America World Airways untuk mengembangkan pesawat komersial dengan rute lintas samudera. Kemudian, satu tahun berselang, pada 1939, layanan penerbangan reguler pertama dari AS ke Inggris diresmikan menggunakan jenis pesawat Boeing 314.

Ekspansi Perusahaan

Pada 1994, Boeing kembali memperkenalkan pesawat jet komersial yang cukup fenomenal, yaitu Boeing 777 dengan kapasitas duduk sekitar 300-370. Pesawat ini merupakan pesawat pertama yang dirancang sepenuhnya dengan menggunakan teknologi komputer atau teknik Computer-Aided Design (CAD). 

Selain itu, Boeing 777 juga menjadi pesawat pertama yang disertifikasi oleh Federal Aviation Administration (FAA) sebagai pesawat yang mampu terbang dengan bahan bakar penuh selama tiga jam dengan satu mesin saja.

Kemudian, pada tahun 2000, Boeing melakukan ekspansi perusahaan dengan membeli Hughes Electronics dan merambah pada bidang komunikasi satelit. Dengan begitu, tidak hanya memproduksi pesawat terbang komersial dan tempur, Boeing mencoba untuk ikut serta dalam kompetisi penjelajahan luar angkasa.

Alhasil, pada 2014-2015, NASA memberikan kontrak kepada Boeing dan SpaceX milik Elon Musk untuk menerbangkan astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional sebagaimana dikutip dari ExtremeTech.com. 

Melalui rekam jejak dan perkembangan tersebut, hingga kini, ketika perusahaan telah berusia lebih dari 100 tahun, Boeing telah memproduksi ragam jenis pesawat, mulai dari Pesawat Narrow Body, wide body, tanker, freighter, pesawat militer, pesawat space, pesawat roket, hingga pesawat satellite. 

Saat ini, The Boeing Company adalah perusahaan kedirgantaraan terkemuka di dunia, mempekerjakan 159.469 orang, dan tercatat memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$138,77 miliar per 23 Agustus 2023.

Mengapa Boeing Sangat Diminati

Mengacu pada pemeritah Indonesia selaku Boeing User, Sekretaris Kemsesneg Lambock V Nahattands mengatakan, ada tiga alasan mengapa pemerintah memilih pesawat jenis Boeing. “Dari aspek operasional, pilot-pilot di dalam negeri, termasuk pilot TNI AU, lebih siap dan familiar dengan pesawat Boeing. Umumnya, pesawat-pesawat yang digunakan di Indonesia adalah pesawat Boeing,” kata Lambock, di Kemsesneg, Jakarta, Kamis (9/2/2012).

Dari aspek perawatan, kata Lambock, fasilitas dan kemampuan teknisi di dalam negeri lebih siap ketimbang pesawat merek lainnya. “Alasan lainnya, pesawat Boeing telah banyak digunakan untuk penerbangan VVIP negara-negara lain di dunia,” sambung Lambock.

Kemampuan yang dimiliki Boeing pun sesuai dengan kriteria yang diinginkan pemerintah, yakni pesawat mampu terbang jauh selama 10-12 jam, mampu mendarat di bandara kecil, serta memiliki peralatan navigasi, komunikasi, cabin insulation, dan inflight entertainment.

Selain itu, boeing cendeung digandrungi karena dinilai memiliki armada pesawat yang lebih irit.

Deret riwayat Kelam Boeing

Namun, dibalik prestigiusnya perusahaan Boeing, sederet kisah kelam dialami sejumlah maskapai pengguna boeing, di Indonesia sendiri, beberapa diantaranya adalah Accident   Boeing 737-400 milik maskapai Adam Air dengan nomor penerbangan KL 574 tujuan Surabaya-Manado yang jatuh di selat Makassar 1 januari 2007 silam. Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air dengan nomor penerangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh 2018 lalu di perairan Karawang,  kemudian Boeing 737-500 milik armada Sriwijaya Air Penerbangan 182 (SJ182/SJY182) rute Jakarta-Pontianak yang jatuh diperairan kepulauan seribu pada 9 januari 2021. Belum lama ini, lagi masalah menimpa armada Alaska Airlines dengan pesawat Boeing 737 Max 9 nya yang mengalami copot pintu saat mengudara.

Pada kasus Adam Air, terlaporkan bahwa telah terjadi kerusakan perangkat navigasi dan Human eror, mengutip dari merdeka.com, ‘Laporan akhir, yang dirilis pada 25 Maret 2008, menyimpulkan bahwa pilot kehilangan kendali atas pesawat setelah mereka sibuk memecahkan masalah sistem navigasi inersia dan secara tidak sengaja mematikan autopilot’.

kemudian Accident Lion Air JT 610, mengutip dari laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pilot sempat melaporkan adanya gangguan pada kendali pesawat, gangguan pada indikator ketinggian, dan indikator kecepatan. Melansir dari Kompas, ‘pesawat tersebut merupakan pesawat yang baru di datangkan pada bulan juni 2018 dan mengalami kecelakaan pada 29 oktober 2018’.

Sedangkan Sriwijaya Air SJ 182, mengutip dari BBC news Indonesia, ‘Accident disebabkan oleh gangguan mekanikal pada sistem throttle (tuas untuk mengatur tenaga yang dikeluarkan mesin di pesawat)  yang tidak dipantau dengan benar oleh pilot.

Kepala Sub Komite Investigasi Penerbangan KNKT Nurcahyo, juga mengungkap bahwa saat kecelakaan itu terjadi, tidak ada regulasi yang memandatkan maskapai penerbangan memberi pelatihan upset prevention and recovery training (UPRT) kepada pilot.

Deret sanksi yang diterima Boeing

Dalam beberapa kasus, melansir dai kanal Youtube Capt. Vincent Raditya, 2 kecelakaan Boeing disebabkan Fiture MCAS pada Boeing 737 Max. MCAS berfungsi mencegah pesawat stall saat take off, dimana cara kerja MCAS adalah dengan menaik hindung pesawat kebawah sebagai stall prevention. Namun, fiture ini tidak disosialisasikan dengan baik, dan bahkan dua Accident crash, menimpa maskapai Lion Air JT 610 dan Eutipia Airlines karena kru penerbangan diduga belum menerima sosialisasi dari fiture baru MCAS pada Boeing. 

Akibatnya, Boeing 737 Max dilarang terbang (Grounded) sejak Maret 2019 setelah dua kecelakaan pesawat terjadi di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 jiwa, hanya dalam lima bulan.

(Pewarta : Febrian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *