NTBPENDIDIKANTERKINI

Terkait Dugaan Markup Data & Korupsi BOSP, LSM AP3 Laporkan Yayasan IT Kasman Bima ke Ditreskrimsus Polda NTB

Narasimedia.net || Aliansi pemuda Pemerhati Pembangunan (AP3) NTB Lakukan pelaporan terkait dugaan Mark up data Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yayasan IT Kasman yang berlokasi di kecamatan Madapangga Kabupaten Bima.

Koordinator Lapangan (korlap) Aksi Wahyu mengatakan, pelaporan yang dilakukan untuk menindak lanjuti dugaan praktek korupsi BOSP dengan nominal penilapan yang sudah menyentuh ratusan juta.

“data yang kami laporkan adalah temuan Markup tahun 2019 sampai 2024 dengan jumlah keuntungan Markup ditaksirkan hingga ratusan juta”. ujarnya.

Diinformasikan wahyu, bahwa Yayasan Kasman Bima yang menaungi beberapa lembaga pendidikan mulai dari TK/PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, Hingga PKBM dan SLB diduga melakukan manipulasi data peserta didik khususnya di SD, SMP, SMA dan SMK, yang mana dari kesemua temuan Mark Up itu mengarah pada tujuan untuk menaikkan penerimaan dana BOSP.

Padahal, kata wahyu, data peserta didik tersebut tidak sesuai dengan realitas Yayasan IT Kasman Bima yang bahkan minim kegiatan belajar mengajar (KBM) dan banyak muridnya hanya berjumlah belasan saja.

“Yayasan Kasman Bima menjadikan Lembaga Pendidikan sebagai bisnis yang menguntungkan. Hal itu terlihat jelas dari praktek manipulasi data yang dilakukan, misalnya berdasarkan Dapodik (terupdate 19 Maret 2024) di SMA IT Kasman Bima jumlah peserta didiknya adalah 99 orang tetapi data tenaga pendidik dan gurunya tidak jelas” jelasnya.

Kemudian, sambung wahyu ” di SMK Islam Kasman Bima, peserta didik di dapodiknya terdaftar 91 orang sedangkan tenaga pendidiknya hanya 2 orang. Hal ini jelas menimbulkan kecurigaan terhadap proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan di Yayasan Kasman Bima yang diduga fiktif, karena dari beberapa pengamatan kami dilapangan peserta didik yang diajarkan bisa dihitung dengan jari kurang lebih 15 Orang untuk SMP dan SMA” Jelasnya.

“Belum lagi kondisi gedung yang tidak terawat, plang sekolah yang hanya berupa spanduk yang di ganti-ganti kadang SMP kadang SMK dan hanya dua kelas saja, tentu menguatkan dugaan bahwa yayasan Kasman Bima diduga menjadi pelaku bisnis yang menggunakan data fiktif peserta didik untuk bagaimana meraih keuntunggan melalui dana BOSP”. Tuturnya

Wahyu menginformasikan, “Bahkan di data yang lama tahun 2019 untuk di SMK IT KASMAN BIMA bahkan tercatat terdapat 118 siswa kelas 10 (sepuluh), 25 siswa kelas11(sebelas), dan 6 orang siswa kelas 12 (duabelas), dan berdasarkan laporan masyarakat siswa yang terdaftar di SMK IT KASMAN BIMA merupakan data fiktif yang tidak memiliki kejelasan”.

Dari praktek manipulasi data ini, pundi-pundi uang mengalir deras ke Yayasan Kasman Bima, Bahkan, kata wahyu praktek semacam ini sudah menjadi rahasia bersama antara antara lembaga pendidikan dan Dinas terkait di Kabupaten Bima, “tentu membuat nyaman dan melanggengkan praktek bisnis di Dunia Pendidikan. Kita hitung saja dengan data Dapodik 2024 ini dimana ada 99 siswa di SMA IT Kasman Bima kemudian di kali 900.000 ribu, di SMA IT Kasman saja sudah didapatkan kira-kira 89 juta lebih, belum lagi lembaga-lembaga pendidikan lain yang berada dibawah naungan yayasan Bima”.

Dengan laporan ini, Wahyu berharap bisa memperbaiki dan menyehatkan kembali arus pendanaan pendidikan yang saat ini telah bergeser fungsi menjafi ladang bisnis yang menguntungkan kantong oknum-oknum yang mencederai marwah pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *