Museum Genggelang : Pintu Pembuka Memahami Peradaban Kedatuan Gangga

Lombok Utara, NARASIMEDIA.NET || Sejarah lahir sebagai ilmu untuk menelusuri Peradaban. Dan sebuah peradaban bisa dideteksi dari peninggalan-peninggalan otentik yang berisi informasi-informasi penting terkait peradaban tersebut.
Dari kunjungan sederhana di sebuah bangunan semi panggung yang disebut sebagai Museum Desa Ganggelan, mengantarkan penulis pada sebuah cerita penting terkait keberadaan kedatuan Gangga. Sebuah kerajaan yang diyakini merupakan salah satu kerajaan pertama di Pulau Lombok yang bercorak Islam.

Menurut tokoh adat setempat sekaligus pengurus museum, Amiq Supardi atau juga akrab dipanggil Amiq Khalid, Kedatuan Gangga dapat dideteksi dari takepan-takepan yang telah di terjemahkan milik warisan leluhur masyarakat Gangga.
Dalam takepan dijelaskan bahwa Kedatuan Gangga disebutkan berdiri antara sekitar abad ke 8/9 Masehi dengan raja pertama nya yang merupakan penyebar agama Islam yang berasal dari Irak bernama Syeikh Sayid Abdurrahman Arabian yang mengubah namanya menjadi Ambiyak Penagaran Keling. Bahkan di museum disebutkan ada sebuah peta pembagian wilayah Kedatuan Gangga dan Kedatuan Bebekeq.
Dari wawancara hangat dengan Amiq Khalid, diceritakan bahwa Kedatuan Gangga dalam sejarahnya berganti sekitar 30 an kali Pemimpin atau Raja dan itu terekam dalam takepan. Kedatuan Gangga meredup pamor kekuasaannya sekitar abad ke-17 atau 18 pada saat Kerajaan Karang Asem-Bali menjajah Lombok.
Di Museum, total ditampilkan sekitar 70 an benda-benda bersejarah termaksud takepan, alat dan baju perang, peralatan tradisional khas Gangga masa lalu, dan tembikar-tembikar serta koin-koin kuno yang memiliki relevansi kuat akan adanya hubungan kuat Kedatuan Gangga dengan kerajaan ataupun dinasti di luar negeri seperti India dan Cina. Bahkan dalam piagam Gangga diceritakan bahwa Raja Magada dari India pernah dibawa jalan-jalan oleh Raja Kedatuan Gangga mengunjungi wilayah-wilayah di Pulau Lombok.
Untuk Piagam Gangga sendiri masih berada di luar dari museum yakni berada di Dusun Kerurak dan telah diterjemahkan serta bisa diakses oleh masyarakat umum di Google dengan mengetik Sejarah Kedatuan Gangga. Piagam Gangga aslinya berbentuk lempengan tembaga dan jumlahnya terdiri dari 7 buah.
Meskipun bernilai historis, pengkajian lanjutan terkait bukti-bukti keberadaan kedatuan Gangga yang diyakini sebagai induk dari beberapa kerajan atau kedatuan di Lombok seperti Bayan dan Selaparang ini masih minim. Kepedulian pemerintah masih sebatas pada melibatkan tokoh adat dan museum dalam event-event. Tidak pada tataran serius untuk merekonstruksi sejarah Kedatuan Gangga.
Meseum yang mulai dibuka tahun 2018 ini merupakan semangat masyarakat Ganggelan untuk mewariskan kearifan lokal dan sejarah peradaban setempat yang dipercaya sebagai suatu kekayaan kultural yang harus terus dirawat dan terus digali kebenarannya.
Amiq Khalid berharap Museum Genggelang bisa dijadikan pintu pembuka pengetahuan khususnya bagi generasi muda dan intelektual untuk memahami peradaban Kedatuan Gangga. Museum yang terletak di Dusun Kerta Raharja ini juga selalu terbuka pintunya bagi siapa saja yang ingin berkunjung dan belajar khususnya sejarah dan peradaban Gangga Lombok Utara.
Penulis : Muhammad Aris Firdaus, M.Pd

