Kopi Keliling dan Wajah Baru “CUAN” Anak Muda
Oleh: Muhammad Raihan Mubaraq, S.E., M.A. (Dosen – Universitas Negeri Makassar)
MATARAM, NARASIMEDIA.NET –
Fenomena kopi keliling kini semakin mudah ditemui di berbagai sudut kota. Dengan kendaraan sederhana, gerobak kecil, atau coffee bike, anak-anak muda menjual kopi dari satu tempat ke tempat lain. Sekilas, ini mungkin hanya terlihat sebagai tren gaya hidup. Namun, di baliknya terdapat fenomena menarik: semakin banyak generasi muda yang berani masuk ke dunia bisnis dan membangun usaha dari skala kecil.
Kopi keliling menunjukkan bahwa memulai bisnis tidak selalu membutuhkan modal besar. Dengan kreativitas, keberanian membaca peluang, media sosial, dan teknologi pembayaran digital, sebuah usaha dapat dimulai secara sederhana tetapi memiliki potensi untuk berkembang.
Fenomena ini tentu patut dilihat secara positif. Anak muda tidak hanya menjadi konsumen produk UMKM, tetapi mulai menjadi pencipta produk, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi baru.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: ramainya penjualan belum tentu menunjukkan sehatnya sebuah bisnis.
Seorang penjual kopi mungkin mampu menjual puluhan bahkan ratusan gelas sehari. Tetapi, apakah ia benar-benar mengetahui berapa keuntungan yang diperoleh? Apakah biaya bahan baku, kemasan, bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga penyusutan peralatan sudah diperhitungkan?
Di sinilah akuntansi memiliki peran penting.
Akuntansi tidak harus dipahami sebagai laporan keuangan yang rumit. Bagi pelaku kopi keliling, akuntansi dapat dimulai dari hal sederhana: mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan uang pribadi dan uang usaha, menghitung biaya per produk, serta mengetahui laba yang sebenarnya.
Lebih dari sekadar pencatatan, informasi tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan. Misalnya, menentukan harga jual, memilih menu yang paling menguntungkan, mengevaluasi promosi, hingga memutuskan kapan usaha perlu diperluas.
Menariknya, pengelolaan tersebut juga dapat diarahkan pada bisnis yang lebih berkelanjutan. Penggunaan kemasan ramah lingkungan, pengurangan limbah, efisiensi bahan bakar, dan penggunaan bahan baku secara bijak bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari bagaimana usaha mengelola biaya dan sumber dayanya.
Pada akhirnya, kopi keliling bukan sekadar fenomena tentang minuman yang sedang populer. Ia merupakan gambaran kecil tentang munculnya generasi muda yang berani berwirausaha, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan peluang ekonomi dari sesuatu yang sederhana.
Tantangannya adalah memastikan bisnis tersebut tidak hanya viral dan laris hari ini, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Karena bisnis yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa banyak produk yang terjual, tetapi juga tentang seberapa baik sumber daya dikelola, keuntungan dipahami, dan keputusan dibuat berdasarkan informasi.
Dari secangkir kopi yang dijual di pinggir jalan, kita sebenarnya sedang melihat tumbuhnya wajah baru UMKM: lebih muda, lebih kreatif, lebih digital, dan jika dikelola dengan baik akan lebih berkelanjutan.

